*
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Rohani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2010

Kesaksian Dadang Matius


Kesaksian yang luar biasa dari seorang pawang ular yang bertobat dan diubahkan oleh Yesus.



RABBONI ISA AL-MASIH TELAH MENYELAMATKAN SAYA.


Dulu nama saya Dadang Murtala, berdarah Sunda asli, lahir di Bandung tanggal 14 Januarl 1951. Saya 9 bersaudara 5
perempuan, 4 laki-laki, saya paling kecil tapi paling berandal. Dalam tahun 1970 saya ke Banten. Berguru di pesantren
untuk mendapatkan ilmu kekebalan tubuh dan menjinakkan hewan-hewan berbisa.

Pada akhir pelajaran saya diwajibkanmembaca mantra dan puasa tiga hari dan pada hari ketiga tidak boleh tidur sama sekali.Akhirnya saya harus mengucapkan mantra khusus sebanyak seribu kali, sesudah itu saya dinyatakan siap bertempur.

Rambut saya panjang, 110 cm, terpaksa saya biarkan memanjang, karena tidak ada gunting dan tidak ada pisau yang bisa digunakan untuk memotong rambut saya. Saya masuk dalam ruangan kaca yang sudah penuh dengan 400 ekor ular-ular berbisa, ular cobra, ular welang, ular tanah dan sebagainya, juga penuh dengan kalajengking yang besar-besar sebanyak 3000 ekor. Saya bergaul dengan hewan-hewan berbisa itu siang dan malam selama 100 hari. Sudah itu dalam aktrasi yang lain saya menyediakan jeruji sebanyak 100 buah.

Saya tusukan ke leher saya dari kanan tembus ke kiri. Penonton saya persilahkan menusukkan jeruji sepeda yang lain ke tubuh saya atau ke leher saya, boleh pilih sendiri. Sampai banyak jeruji menghiasi tubuh dan leher dan mulut saya. Setelah beberapa lama berlangsung atraksi ini, jari-jari sepeda saya cabut satu per satu, bekas-bekasnya saya sapu dengan tangan saya sambil mengucapkan mantra., dan tidak ada bekas, tidak ada darah menetes.Pada tanggai 4 Agustus 1992 terjadilah peristiwa yang tidak saya sangka-sangka. Ular cobra kesayangan saya, yang pada setiap pertunjukan selalu melilit di leher saya dengan ekornya dan menari-nari dengan batang leher dan kepalanya dengan sangat lucu mengikuti irama musik, entah kena apa mendadak sontak memagut tangan kanan saya. dan seketika itu tangan saya membengkak dan saya jatuh pingsan.

Ketika saya siuman kembali, ternyata saya telah terbaring di ruang gawat darurat di rumah sakit Ranca Badak dengan infus di tangan kiri saya. Kata dokter saya kena nerotoksin. Selama 29 hari saya terbaring di ruang gawat darurat menghabiskan 47 labu cairan dan 13 labu darah. Kondisi badan saya sangat menurun, tinggal kulit yang melekat di tulang dan rambut
saya yang panjang di bawah pinggul saya. Berat badan saya menurun dari 59 kg menjadi 37 Kg. Keluarga saya kehabisan biaya, sedang kondisi saya terus menurun tidak ada harapan lagi, saya dimintakan untuk pulang saja oleh keluarga saya.

Setelah empat hari di rumah saya tidak sadarkan dirl. Saya dilarikan lagi ke rumah sakit. Saya mendengar percakapan orang
disekitar saya.Empat orang dokter sempat melihat tubuh saya. Semuanya mengatakan saya sudah tiada lagi. Visum kematian
sudah dibuat untuk penguburan saya. Keluarga saya sudah miengucapkan doa-doa orang mati di bawah ranjang saya. Tapi
seorang dokter di antara ke empat dokter yang tidak bersedia saya sebutkan namanya, melarang tubuh saya cepat-cepat di kubur, karena dia ingat percakapan saya dengan dia waktu saya dirawat di ruang gawat darurat, kalau saya mati jangan cepat-cepat dikubur. Dia berdoa dan tumpang tangan di atas kepala saya. Setelah saya mengalami tidak sadarkan diri selama dua hari satu malam itu, ada gerakan lagi pada jari-jari saya. ada pernafasan lagi. Dokter tersebut mengambil segelas plastik aqua dan di tetes-teteskan kedalam mulut saya. Saya dapat membuka mata dan telah sadar kembali. Tiga orang dokter lain ikut mendatangi saya dan mereka berempat berdoa dan tumpang tangan buat saya. Setelah tiga hari di rumah sakit saya dibawa pulang lagi oleh keluarga saya.

Selama di rumah saya merenungi hidup saya dan ingat pula atas pelayanan para dokter dan para juru rawat di rumah sakit serta ingat pula atas doa dokter tersebut. Setelah beberapa bulan di rumah, saya ingat pelajaran saya waktu belajar ilmu hitam, ilmu mantra dan ilmu tenung bahwa orang Kristen itu tidak mempan mantra dan tenung. Hati saya mendadak tergerak untuk bertemu dengan Pendeta. Dengan kondisi badan yang belum pulih, saya pergi ke Bandung langsung ke suatu Gereja yang besar di tepi jalan besar. Tetapi alangkah kecewa hati saya mereka yang ada di gereja itu tidak ada yang mau menerima kedatangan saya. Mungkin mereka menganggap saya ini kurang waras, tubuh saya kurus kering, rambut saya panjang seperti ekor kalajengking. Saya pulang ke rumah dengan rasa murung.

Beberapa hari kemudian saya pergi ke rumah salah seorang yang beragama Kristen. Saya ceritakan kekecewaan saya itu, dia
tanggap dan saya diajak ke Bandung, ke Gereja yang lain. Di sini saya dilayani. Saya mengikuti kebaktian tiap hari Minggu dan setelah tiga bulan saya dibaptis, yaitu pada tanggal 20 Juni 1993.

Sejak saya masuk gereja tidak ada lagi dalam pikiran saya untuk tampil dalam pertunjukan lagi seperti yang sudah-sudah. Bukan karena takut mati dipagut ular tapi takut akan Rabboni 'Isa. Dulu saya sahabat ular sekarang saya menjadi seteru ular dan berperang melawan ular.Dulu, ular sahabatku, sekarang Rabbi Isa Almasih Juruselamatku. Dulu, saya membenci orang Kristen tetapi orang Kristen tidak membenci saya. Dulu saya pernah membenci Yesus Kristus tetapi Yesus yaitu 'Isa tidak pernah membenci saya, bahkan hari ini Yesus telah melepaskan saya dari kuasa gelap, menyelamatkan saya dari kebinasaan.

Tetapi setan memang tidak pemah berhenti menggoda manusia.Pada suatu hari saya ditawari uang Rp 12.000.000,- untuk
pertunjukan selama satu bulan, dengan pertunjukan lima jam sehari. Nama dan gambar saya dimuat di surat kabar. Tetapi sekalipun keluarga saya hidup pas-pasan, saya tidak terpikat lagi atas tawaran Iblis tersebut.

Pada suatu hari Pendeta mengirim saya ke Jakarta untuk belajar dan berlatih di sekolah Al-Kitab. Senin sampai Jumat belajar di Jakarta, Sabtu dan Minggu di Bandung dan bertemu dengan keluarga dan handai tolan. Saya berbicara tentang keselamatan yang diajarkan oleh Sang Juruslamat sendiri yaitu AlMasih 'Isa. Eh, banyak dari mereka yang tertarik, dan mereka minta dibaptis. Akhirnya istri saya, anak-anak saya, adik-adik ipar saya, mertua saya, teman-teman saya juga mereka yang tempat tinggalnya jauh dari rumah saya sampai 40 km dari rumah saya menerima baptisan kudus sebagal tanda pertobatan mereka, sebagai meterai mereka menjadi milik Sang Juruslamat Al-Masih 'Isa. Sampai kesaksian saya ini saya tulis, jumlah mereka itu semua sudah mencapai 87 orang. Puji Tuhan. Dan saat itu nama
saya yang mula-mula Dadang Murtala berubah menjadi Dadang Mathius.

Demikianiah kesaksian saya, saya tuliskan dengan harapan saya agar ikut menjadi penggerak dan penggairah hati anak-anak Tuhan untuk mau ikut melayani Dia. Bersaksi tentang Dia dan memberitakan kasihNya, penyelamatan orang berdosa seperti saya dulu yang pernah dikuasai setan, yang bakal binasa telah diselamatkan oleh Dia.

Puj'i Tuhan.

Tuhan memberkati kita semua

Dadang Mathius

Sabtu, 16 Oktober 2010

DISELAMATKAN OLEH KASIH (Bagian 4)

Dengan berderai air mata, dengan tubuh bergetar karena tangis yang ia tahankan, yang membuat dadanya terasa sesak dan sakit, ia dengan pelan menghampiri Yesus, ia tersungkur di kaki Yesus. Dengan emosi yang diliputi oleh kebahagian sekaligus derita, ia menangis dan menciumi kaki Yesus, ia menangis tanpa suara... hanya air mata saja yang mengucur deras membasahi kaki Yesus.... kemudian dengan halus dan lemah lembut ia hapus tetesan air mata itu dengan rambutnya yang hitam lebat, ia bersihkan tetesan air mata itu bagai ia menghapus kotoran yang menjijikan dari kaki Yesus, dan itu adalah kekotoran dosa-dosa masa lalunya....kemudian ia ciumi lagi kaki Yesus dengan sayang...

Di bukanya botol pualam indah berisi minyak wangi yang dibawanya. Minyak wangi mahal itu dituangkannya ke kaki Yesus, diusapkannya dengan penuh kasih dan hormat....

Ia sembah sujud di kaki Yesus dengan tangis yang semakin keras... ia merasa begitu bahagia, ia merasa telah lepas semua beban deritanya.... ia merasa menjadi manusia baru.... yang begitu suci sempurna... Ia tahu bahwa dosanya telah diampuni, dan ia merasa bagai seorang bayi suci yang dilahirkan kembali, tanpa dosa dan noda.... begitu murni...

Semua yang hadir dalam jamuan makan itu tertegun dengan apa yang diperbuat oleh perempuan itu. Mereka terpana dan sibuk dengan pikiran mereka. "Alangkah bodohnya wanita ini, minyak wangi yang begitu mahal dibuangnya secara sia-sia dikaki Yesus....", ada juga yang berpikir "Hal yang memalukan, merendahkan diri membasuh kaki seorang guru, walaupun Ia sehebat Yesus dengan airmata dan menghapus dengan rambutnya yang indah itu... huh.... benar-benar tindakan yang bodoh...!" Bahkan Simon, orang Farisi yang mengundang Yesus itupun terpana, ia berkata dalam hati, "Seandainya orang ini nabi, tentu Ia tahu siapa wanita itu yang menyentuh Dia, bahwa wanita itu hidup dalam dosa!".

Yesus menatap Simon dengan tatap tajam namun penuh kasih, bagai Yesus mengetahui apa yang menjadi isi hati Simon, dan berkata kepada Simon, "Simon, ada sesuatu yang mau Kukatakan kepadamu."

"Ya, Pak Guru," jawab Simon, "katakan saja."

Yesus berkata, "Ada dua orang yang berutang kepada orang yang meminjamkan uang. Yang seorang berutang lima ratus uang perak, dan yang seorang lagi lima puluh uang perak. Kedua-duanya tidak dapat melunasi utang itu, maka utang mereka dihapuskannya. Nah, siapa di antara kedua orang itu akan lebih mengasihi orang yang meminjamkan uang itu?" tanya Yesus.

"Saya kira orang yang paling banyak dihapus utangnya!" jawab Simon.

"Pendapatmu benar," jawab Yesus.

Lalu Yesus melihat kepada wanita itu dan berkata kepada Simon, "Engkau melihat wanita ini? Aku datang ke rumahmu, dan engkau tidak menyediakan air untuk membersihkan kaki-Ku; tetapi wanita ini sudah membersihkan kaki-Ku dengan air matanya, dan mengeringkannya dengan rambutnya. Engkau tidak menyambut Aku dengan ciuman, tetapi wanita ini tidak berhenti menciumi kaki-Ku sejak Aku datang ke sini. Engkau tidak menuang minyak di kepala-Ku, tetapi wanita ini sudah menuang minyak wangi di kaki-Ku. Sungguh: kasihnya yang besar itu menunjukkan bahwa dosanya yang banyak sudah diampuni! Kalau orang diampuni sedikit, ia akan mengasihi sedikit juga."

Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, "Dosa-dosamu sudah diampuni."

Orang-orang lain yang duduk makan bersama Yesus mulai berkata satu sama lain, "Siapa orang ini sampai dapat mengampuni dosa?"

Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu, "Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau diselamatkan. Pergilah dengan damai!"
----------

LORD JESUS bless you and me, now and forever.
AMIN.

Sumber tulisan:
YOHANNES 7:53 - 8:11 = Perempuan yang berzinah
LUKAS 7:36-50 = Yesus diurapi oleh perempuan berdosa

Kamis, 07 Oktober 2010

Berjumpa Dengan Tuhan

Shalom,
Waktu itu aku berumur + 10 thn dan sedang mengalami sakit diare/muntaber (muntah2 dan berak2). Sakitku itu sudah berlanjut 3 hari dan pada hari yang ke 3 aku di doakan oleh seorang pendeta yang kebetulan masih saudara dari ibuku (adik Ipar)…..dan keesokan harinya(hari ke 4) sekitar jam 10 pagi dengan kondisi tubuh yang masih lemah dan dalam keadaan tertidur, tiba-tiba aku terbangun oleh suatu suara yang memanggilku: “ Denny bangun…!!!” dengan tubuh yang masih lemah aku bangun dari tempat tidurku dan mencari suara yang memanggilku itu. Aku ke dapur dan mendapati pembantu RT ku (namanya yenni)

Senin, 04 Oktober 2010

Kesaksian Ramos Ochoa


Gw masih kecil udah
merantau sekolah ke
singapore lalu ke
amerika for study,
sebelum kesini Sopir gw
bilang bule gede2 Entar
elu mati di tembak..!

Selasa, 28 September 2010

Kesaksian Imel


Shalom, ini adalah kisah dari perjalanan hidup saya secara pribadi dalam mencari wajah TUHAN. pada usia perkawinan sy ke 7, suatu siang sy melihat suatu cahaya yg sangat menyilaukan mata, shg saya menutup mata, tapi tiba2 saya mendengar suara dengan nada yg agak berat mengulurkan tangan dan berkata "ini Aku, pegang tanganKU" lalu sy menjwb, Aku siapa? Lalu terdengar kata2 yg sm dan sy menjwb dgn jwban yg sama. Sampai 3 kali, pada sapaan ke 3 sy menjawab, ya sy pegang tanganMU walaupun tidak mengenal Engkau. Ini adalah awal dr perjalanan mengenal Kristus. Sejak saat itu mulailah pergumulan yg luar biasa di dalam rumah tangga sy. Mulai dr suami di PHK, shg keadaan ekonomi berantakan, perselingkuhan, anak jd terlantar, hampir 7thn keadaan spt ini, akhirnya sy pergi ke paranormal dgn maksud minta tlg untuk memperbaiki rumah tangga, baik ekonomi dll, dgn instan, tp yg sy dpt bkn itu, malah suami sy meninggalkan sy slm 2 thn, tanpa kbr. Dan sy akhirnya mendalami kartu tarot, jdlah sy wkt itu seorang peramal. selama hampir 4 thn sy sungguh2 menekuni itu, thn 2002-2006, klien sy cukup bnyk saat itu, dan yg sy heran justru bnyk yg kristen. suatu hari sy bertemu dgn seorang pelayan Thn, dia menyapa sy, dan dia katakan begini "na, gue denger2 lu sdh jd peramal tarot ngetop nih", sy pura2 ga dengar, lalu dia lanjut lagi katakan "hebat jg kartu tarot lu ya, tp tau ga lu ada yg lbh hebat dr kartu tarot?" lalu sy mulai melihat wajahnya... Dan sy tanya "apa?" lalu dia jawab "alkitab". Sejak saat itu slm 1 minggu sy mulai gelisah dan penasaran... Apa iya? Masa sih? Lalu sy mulai berdoa....sy selalu berdoa, tp jarang membaca alkitab. Lalu sy mulai membacanya. Dan mulai bertanya pada THN....siapa sy, untuk apa sy ada didunia....lalu sungguh Thn menjawab melalui FirmanNYA, Yer 1:4-19 saat itu sy menangis....ternyata sy ada di dlm rencanaNYA. 2 minggu sy gelisah, antara kartu tarot dan Alkitab... Lalu sy memohon lg pada THN.

Senin, 27 September 2010

MELIHAT TAMAN YANG SANGAT INDAH - Kesaksian Seprianus Podiaro


Syallom,

Puji Tuhan oleh karena kasihnya saya masih bisa hidup sampai sekarang. Ketika saya menulis kesaksian ini, hati saya hancur dan saya sangat merasa tidak layak mendapat kemurahanNYA dan mendapat kesempatan melihat hal yang sungguh ajaib karena banyak dosa yang sudah saya lakukan dalam hidup muda saya serta sering tidak dengar-dengaran kepada Roh Kudus. Namun Kasih Tuhan amat besar begitu kuat menarik serta mencengkram dengan kuasa Roh Kudus untuk saya tetap hidup berlayak dihadapanNYA.

Kejadian yang tak terlupakan itu berawal pada saat dimana hati saya rindu untuk mengikuti KKR walaupun waktu itu saya ada jadwal kuliah semester pendek di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak Kal-Bar Thn 2005. Namun hati saya tetap bergejolak untuk mengikuti KKR tersebut. dalam hati saya percaya Tuhan pasti buka jalan yang terbaik asal saya mengutamakan Tuhan dalam segala hal seperti ditulis dalam injil Matius 6 : 33, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu". itulah yang menjadi motto dalam hidup muda saya sampai saat ini.

Ketika saya memasuki ruangan itu saya hanya mendapat tempat duduk dibagian belakang karena banyaknya orang yang hadir namun saya merasakan urapan Allah yang luar biasa dan setiap Firman yang disampaikan selalu tertuju kepada saya bahkan Tuhan mau menyucikan hidup saya dari segala dosa kejahatan dan kenajisan yang dulu saya lakukan, secara daging sangat sakit dan menolak, namun kuasa urapan Roh Kudus menembusi hati batin saya bahkan menghancurkan tembok hati saya yang keras sehingga hati saya mulai hancur bahkan satu persatu Tuhan tunjukan segala kekurangan saya bahkan suara Tuhan lebih jelas lagi berbisik pada telinga saya untuk saya melepaskan roh-roh yang diberikan oleh ayah saya ketika saya masih kecil yaitu berupa air yang sudah dimantrai, dan kalau saya minum badan saya yang tadinya sakit menjadi sembuh, memang ayah saya waktu itu terkenal dengan mempunyai banyak ilmu yang dipelajarinya bahkan keahlian dia adalah warisan ilmu2 dari kakek dan nenek saya yang belum bertobat.

Minggu, 26 September 2010

KASIH MAMA (Bagian 3)

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

KASIH MAMA (Bagian 2)

Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, dikiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?”.

“Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak.

Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya. Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orang tua sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota , dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota , bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.“Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu.

“Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.”

“Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sdu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
===

1 Yohanes 3:1 ==> Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

LORD JESUS bless you and me, now and forever.
AMEN.

Sumber: Kisah Kehidupan.

KASIH MAMA (Bagian 1)

Ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati.
Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati. Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya.

Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang orang tua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain. Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian-pakaian tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obat herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat.Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”). Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko.
“Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
=====

Yohanes 3:16 => Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

LORD JESUS, bless you and me, now and forever.
AMEN

Sumber: Kisah Kehidupan

Jumat, 24 September 2010

KESAKSIAN JIM CAVIEZEL, PEMERAN YESUS DALAM “THE PASSION OF THE CHRIST” (Bagian 2)



Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga sering kali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekadar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib.
Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini).

“Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu sering kali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”?
Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus.
Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda.
Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”
AMIN.

Kamis, 23 September 2010

KESAKSIAN JIM CAVIEZEL, PEMERAN YESUS DALAM “THE PASSION OF THE CHRIST” (Bagian 1)

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.

Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Pertan terbaik yang pernah dilakukannya (sebelum The Passion) adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line”. Itupun hanya salah satu peran dari bgitu banyak aktor besar yang berperan dal film kolosal itu.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda." demikian pikir Jim Caviezel.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”, kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, tanya Jim bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Minggu, 19 September 2010

Kesaksian dan Kisah Hidup Nick Vujicic

Kesaksian dan kisah nyata Nick

"Kondisi Tubuh Saya Adalah Karunia"

Nick Vujicic adalah seorang pria asal Australia yang mempunyai kondisi tubuh cacat. Dia tidak mempunyai kedua tangan dan kaki yang utuh. Kaki sebelah kirinya pendek sekali, nyaris hanya dari mata kaki sampai telapak kaki. Bagaimana Nick dapat menerima kondisi tubuhnya ini dan bagaimana dia menjalani kehidupannya? Simak wawancara SOLUSI dengan Nick Vujicic berikut ini.

Host: Suatu saat dalam hidup anda, pasti pernah kecewa pada Tuhan. Pernahkah anda berpikir untuk bunuh diri?

Nick: Waktu saya berusia 12 tahun, saya berniat untuk bunuh diri. Saya memang pergi ke sekolah, tapi hidup saya tidak ada di sekolah. Saya melihat diri saya tidak layak lagi untuk hidup… dan saya begitu menyesali keadaan diri saya… Tapi yang saya harapkan saat itu seseorang datang dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Masalahnya jika orang mengatakan hal itu, maka saya akan katakan, “Bagaimana bisa, kamu tidak tahu pahitnya hidup dan masa depan saya. Yang membuat saya senang adalah memiliki orang tua dan saudara yang sangat mendukung saya. Saya selalu terbuka dengan mereka tentang hidup dan perjuangan saya.

Host: Apakah anda pernah protes kepada Tuhan?

Nick: Tentu saja, khususnya pada saat saya berusia 7 sampai 9 tahun. Saya tumbuh di keluarga Kristen, semua orang berkata bahwa tuhan itu Kasih. Setiap orang berkata bahwa Tuhan baik selamanya dan untuk selamanya Tuhan baik. Tapi saya tidak bisa mengatakan itu. Saya tidak dapat melihat kasih Tuhan dalam hidup saya karena rasa sakit dan penderitaan yang saya alami. Saya tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi atas diri saya. Rupanya Tuhan tahu kalau saya akan dilahirkan seperti ini dan saya pikir kalau Dia mengasihi saya, seperti kepada yang lainnya, kenapa Dia membiarkan saya dilahirkan seperti ini… dan juga, kalau Dia dapat melakukan segala sesuatu, mengasihi dan memperdulikan saya, lalu mengapa Dia tidak memberikan saya tangan dan kaki secara mujizat?

Untuk beberapa tahun saya marah pada Tuhan, tidak bicara kepadaNya dan tidak mau melakukan apapun untukNya, sebab dalam setiap keadaan membuat saya bertanya dimanakah Tuhan? Apakah Dia itu benar-benar ada? Apakah Dia mendengar doa kita? Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu terlintas dalam benak saya.

Host: Kapan anda bisa menerima diri anda apa adanya?

Nick: Waktu saya berusia 8 tahun, saya mengalami depresi yang sangat berat. Dipenuhi oleh kemarahan saya terhadap Tuhan, membuat saya ingin menyerah dari hidup ini. Saya selalu bergantung pada orang lain, bahkan untuk mengambil segelas airpun saya tidak mampu. Jadi daripada saya membebani orang lain, lebih baik saya akhiri saja hidup saya. Saya tidak menemukan arti dan tujuan hidup saya…

Seperti tertulis dalam kitab suci, bahwa Tuhan memiliki harapan dan masa depan untuk kita, tapi saya sama sekali tidak meemukan harapan dan masa depan bagi hidup saya. Jadi seringkali saya tidak mengerti bagaimana saya bisa menikah, berkeluarga, hidup sepeti orang normal dan yang lainnya… dan sekalipun menikah, bagaimana saya bisa memegang tangan istri saya? Hal-hal inilah yang terjadi atas diri saya. Namun perubaan datng saat umur saya 13 tahun.

Tadinya saya berpikir bahwa saya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki ketidakmampuan seperti ini. Lalu ibu saya menunjukkan sebuah koran yang memuat artikel tentang seseorang yang mampu mengatasi ketidakmampuannya sendiri. Dan itu membuka pikiran saya, bahwa mungkin saya bukan satu-satunya orang yang menderita. Saya mulai melihat ini sebagai berkat, dan saya melihat hidup saya bukan setengah kosong melainkan setengah penuh. Saya tidak tahu berapa penuh, tapi saya melihat kekurangan ini sebagai karunia.

Host: Pernahkah anda berpikir untuk menikah?

Nick: Tentu saja

Host: Menurut anda, mengapa orang mudah menyerah? Apa harapan anda jika mereka saat ini melihat anda?

Nick: Saya di sini bukan untuk memotivasi karena itu bersifat sementara, saya di sini untuk memberikan inspirasi, karena inspirasi itu bersifat kekal. Dan saya ingin orang mengingat saya waktu mereka melalui masa yang sukar. Saya ingin orang melihat hidup saya sebagai contoh dari kasih karunia Tuhan, supaya semua orang tahu bahwa saya memiliki harapan hanya di dalam Yesus Kristus.

Bagi anda yang ingin mendapatkan DVD kisah nyata dari Nick Vujicic, anda dapat membelinya di situs http://www.%20lifewithoutlimbs.org/

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5)


Info2:

*SMS Air Kehidupan :
Saat kau merasa sendiri, seakan tidak ada tempat untuk berbagi.. ingatlah, ada satu PRIBADI yang setia mengasihimu melebihi kasih apapun di dunia ini. KasihNya tak lekang oleh waktu, kasihNya tanpa syarat.. tulus.. Dia yang tak pernah berubah dulu sekarang dan sampai selamanya. Dia tak pernah mengecewakan, Dia selalu bri pengharapan dan Dia sumber kekuatan dalam setiap perkara.

TETAPLAH BERMIMPI

Namaku Cameron, usiaku baru 9 tahun.
Orang sering mengatakan bahwa aku adalah gadis kecil yang manis dengan rambut kuning dan mata yang bulat indah. Aku selalu tersenyum manis bila mereka mengatakan begitu, dan mencubit pipiku atau mengusap kepalaku dengan lembut.

Sungguh menyenangkan menerima kasih sayang dari banyak orang. Dan aku selalu bersyukur untuk semua itu, karena kebaikan Tuhan Yesus aku bisa menikmati hidup yang indah ini.
Aku mempunyai impian besar. Bila kelak aku menjadi besar aku ingin menjadi seorang balerina. Balerina yang hebat dan membuat sukacita semua orang yang melihatku.

Aku akan menari dengan indah mengikuti irama musik, aku akan berputar di ujung kakiku dengan kelenturan tubuhku. Dan untuk mencapai impian besar itu aku akan bekerja keras. Aku akan berlatih dengan giat. Aku akan terus melaju dengan kekuatan dari Tuhan Yesus.

Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus...? Dan aku percaya dengan keyakinan yang besar. Bahwa Tuhan Yesus pasti akan menolongku untuk mencapai mimpi besar itu. Aku tidak pernah ragu akan hal ini.

Saat ini aku hanya memiliki otak sebelah kiri saja, karena otak kananku telah diangkat dalam suatu operasi saat aku berusia 3 tahun. Pengangkatan otak kanan ini dilakukan karena aku mengalami sindrom Rasmussen, yang membuatku sering kejang-kejang seperti penderita epilepsi (sakit ayan). Dokter kasihan melihat penderitaanku, sehingga setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, akhirnya tim dokter yang menanganiku dan dengan pesetujuan kedua orang tuaku, sepakat untuk mengeluarkan otak kananku. Karena operasi pengambilan otak kanan adalah satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan untuk membantuku menjadi lebih baik.

Dokter yang menangani kasusku ini menyadari bahwa tindakan mengeluarkan sisa otak kanan yang berfungsi mengontrolisisi kiri tubuh, bisa membuatku menjadi lumpuh pasca operasi. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik, dan aku menjalani fisioterapi beberapa waktu lamanya, sehingga akhirnya aku sudah dapat berjalan serta bermain, meskipun terlihat pincang. Operasi itu juga menyebabkan aku kehilangan sebagian dari penglihatan tep matakui.

Aku melewati hari-hariku seperti pula anak-anak kecil lainnya. Selalu penuh sukacita dan kegembiraan. Aku bermain, bersekolah dengan rajin dan berlatih ballet dengan giat.

Aku tahu kondisi tubuhku sudah tidak sempurna, tapi aku selalu berkata pada semua orang dan terutama pada diriku sendiri bahwa, "Aku ingin menjadi balerina."

Aku tahu bahwa aku harus berjuang keras menjalani proses pemulihan agar bisa mengejar impianku menjadi seorang balerina. Meski hanya memiliki otak sebelah kiri, tetapi semangatku tidak pudar. Menyakitkan memang perjuangan ini, tapi setiap aku membayangkan betapa banyak orang yang akan terhibur dan bersukacita karena tarian indahku... oh.... aku menjadi bersemangat lagi.

Aku bisa merasakan bagaimana kakiku bergerak dengan lincah, dan tubuhku meliuk indah. Dan aku bisa merasakan bagaimana tepuk tangan penonton yang terpesona dengan tarianku.

Tuhan Yesus, tolong aku ya, beri aku kekuatan untuk terus maju dan berjuang. Aku tahu Tuhan Yesus pasti akan menolongku, karena DIA begitu baik pada semua orang yang mau berharap...

Saudaraku terkasih,
Ada tiga pelajaran yang bisa kita pertik dari hidup si kecil Cameron, yaitu:

PERTAMA: memilki dan memelihara mimpi.
Jika ingin menjadi orang yang berhasil dan terhormat, maka kita harus memiliki mimpi. Jika mimpi itu sudah terwujud, buatlah mimpi yang baru karena mimpi memberi arah dan pencapaian yang jelas dalam hidup kita. Mimpi juga akan meningkatkan potensi serta nilai tambah dalam diri kita, semua itu dialami Yusuf yang memelihara dan berhasil menggapai mimpinya yang setinggi bintang.

KEDUA: tetap antusias.
Peliharalah mimpi dengan antusiasme yang tinggi, karena antusiasme memampukan kita mengejar mimpi itu. Salomo berkata bahwa orang yang antusias memiliki kekuatan yang ekstra didalam masa sukar. "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan hati yang patah?" (Amsal 18:14).

Antusiasme menjadikan kita tabah menghadapi segala rintangan, kita akan terus bertindak guna mewujudkan mimpi yang ada di hati hingga menjadi suatu kenyataan.

KETIGA: layani Tuhan Yesus dengan mengejar mimpi kita.
Kebanyakan dari impian yang ada di hidup kita, yang dampaknya adalah membangun diri sendiri, sesama dan Kerajaan Surga, berasal dari Tuhan. Jadi mengejar dan mewujudkan mimpi adalah sebuah tindakan yang melayani Dia, karena itu menyenangkan hatiNya. Pemberi impian senang jika hasrat hatiNya kita penuhi. Jadi hari ini berupayalah menggunakan potensi Anda sebaik-baiknya!

Peliharalah antusiasme karena antusiasme memampukan kita menggapai impian setinggi bintang.

LORD JESUS bless you and me, now and forever.
AMEN.

Sumber: Alkitab dan Manna Sorgawi.

Rabu, 15 September 2010

Bebas dari Segala Penyakit bahkan dari Sakit Kepala selama Puluhan Tahun (Kenneth Hagin)

Hidup dalam kasih Allah = Hidup dalam kesehatan ilahi

Menyimpan dendam akan merusak diri anda sendiri!

Saya sudah berkhotbah dan mempraktekkan Markus 11:23,24 selama lebih dari 50 tahun; dan saya juga menjalankan kebenaran-kebenaran rohani yang dikatakan Yesus dalam ayat-ayat tersebut dengan hasil yang mengagumkan.

Namun, bersamaan dengan Markus 11:23,24, saya juga mempraktekkan Markus 11:25, yakni tentang pengampunan. Di sepanjang hidup kekristenan saya, saya selalu menolak untuk menyimpan sedikitpun rasa benci, dendam, atau perasaan-perasaan yang tidak benar terhadap siapapun; …. Kalau sedikit saja dendam atau kebencian terhadap seseorang memasuki hati saya, maka saya akan mengusirnya! Saya tidak mau sedetikpun membiarkannya; saya tidak mau membiarkan pikiran buruk itu lagi sama seperti saya tidak membiarkan keinginan untuk mencuri milik orang lain atau membunuh seseorang. Perasaan-perasaan buruk terhadap orang lain akan merusak diri saya sendiri.

Saya harus berhati-hati dalam hal membiarkan sikap tidak mengampuni dan kebencian masuk ke dalam hati saya; sama seperti berhati-hati terhadap minuman yang mengandung racun atau memegang bisa ular. Sikap tidak mau mengampuni dan perasaan-perasaan buruk terhadap orang lain lebih mematikan daripada semua racun dan gigitan ular berbisa.

Saya yakin itu adalah salah satu alasan saya dapat hidup dalam kesehatan ilahi selama puluhan tahun (bahkan bebas dari sakit kepala). Saya tidak membanggakan diri. Saya membanggakan Yesus dan apa yang telah dilakukan oleh firman Allah.

Itulah sebabnya anda tidak akan pernah mendengar saya mengkritik saudara saya atau sesama hamba Tuhan. Tidak ada seorang pun pernah mendengar saya mengkritik orang lain lebih dari 50 tahun lamanya. Saya tidak mau melakukan hal itu!

Kadang-kadang saya menawarkan beberapa kritikan yang membangun. Namun, anda lihat, kritikan yang menghancurkan tidaklah benar. Kritik yang membangun dimaksudkan untuk menolong orang lain. Dan sekalipun saya menawarkan suatu kritik yang membangun, saya sama sekali tidak mau menyebutkan nama siapapun.

Inilah satu rahasia tentang hidup dalam kebaikan Allah: Kalau anda ingin hidup sehat, anda harus hidup di dalam kasih dan menjaga lidah anda!

JANGAN PERNAH MENYERAH

Saudaraku terkasih,
Banyak pertanyaan timbul berkaitan dengan catatan "CINTA UNTUK BERKORBAN". Apa iya sih kita mampu berbuat seperti itu, membagi kasih dan cinta tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri, bahkan malah cenderung mengorbankan diri sendiri, kepada orang yang tidak ada kaitan kekerabatan lagi.... Rasanya sulit sekali...

Seorang sahabat, mengatakan, bahwa perasaan dan semangat orang yang terdesak keadaan finansialnya dengan orang yang berkecukupan itu lain, lain dalam memandang sebuah pekerjaan, lain dalam menyikapi suatu keadaan....

Demikian kesaksian sahabat terkasih Andre Blessing.
"Saya pernah mengalami sendiri sekitar tahun 2005-an, waktu itu ayah saya sudah tidak ada, mama saya berjuang dengan berjualan untuk hidup, dan saya bekerja dengan gaji yg pas-pasan. Disitu saya merasakan betapa berharganya uang walaupun cuma Rp. 500,00. Mau makan saja saya dan mama harus memilih beras yang murah dan membeli secukupnya. Dan mulai saat itulah saya mempunyai semangat kerja yang sangat luar biasa, dan haleluya saya di berkati Tuhan, dalam waktu kurang dari 1 tahun dari sales pemula saya naik menjadi sales executive dan akhirnya di promosikan menjadi manajer area yang membawahi 5 dealer dalam satu kota, ini sungguh luar biasa, jika dipikir secara logika itu tidak masuk akal, tetapi itulah kenyataannya.

Saudara-saudaraku, jangan gampang berkata tidak mungkin, cobalah terus untuk berusaha walaupun dari hal yang terkecil sekalipun, dan setialah didalam doa, jika Tuhan sudah berkehendak apa yang tidak mungkin akan menjadi nyata di dalam hidupmu. Terus bersyukur dengan apa yang ada padamu saat ini. Jangan pernah menyerah karena Allah Bapa selalu berada dipihak kita. AMIN."

Saudaraku terkasih,
Saya yakin Anda semua pernah tahu dan melihat bapak Mario Teguh, seorang tokoh motivator hebat yang banyak disukai karena apa yang dikatakan dan diucapkannya selalu membawa semangat orang untuk maju dan berjuang untuk kebaikan dan memperbaiki kehidupan mereka.Saya tersentuh waktu Beliau menceritakan pengalaman masa kecilnya diwaktu menghadapi perayaan Idul Fitri.

Seperti anak-anak pada umumnya yang ingin mengenakan baju baru pada hari istimewa itu, demikian juga dengan pak Mario Teguh dengan kakak-kakaknya.

Karena masa itu kehidupan orang tua pak Mario sangat sederhana, yang tidak memungkinkan ayah ibu Beliau membeli baju baru, tetapi karena keinginan hati orang tua yang ingin menyenangkan hati anak-anaknya, ayah pak Mario tidak kurang akal. Ayah ibu Beliau menurunkan gorden yang warnanya sudah berubah kusam karena tuanya, dan menyulap gorden tua tersebut menjadi baju anak-anaknya.Ternyata cukup bagus, dan Mario kecil dengan kakak-kakaknya senang hati mengenakan baju istimewa tersebut.

Saudaraku,
Anda lihat sekarang pak Mario Teguh...?
Saya yakin bahwa semua keberhasilan yang diperolehnya sekarang adalah buah dari kerja kerasnya dan kesetiaannya untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta kehidupan.

Saudaraku terkasih,
Saya sangat percaya, bahwa keadaan sulit dan terdesak seseoranglah yang memungkinkan ia bisa bangkit dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Ia berjuang untuk bangkit dari hal yang tidak nyaman itu. Dan kalau ia sudah berada dipuncak, ia akan begitu penuh simpati pada orang lain yang belum mampu berada diposisi seperti dirinya, dan ia akan berusaha membagi kiat-kiat keberhasilannya.

Jurus keberhasilan yang umumnya adalah semangat pantang menyerah dan selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki.
Mereka umumnya menggunakan semua kritikan orang yang menyangsikan kemampuan mereka sebagai pemicu semangat mereka, untuk membuktikan bahwa mereka mampu... mereka bisa...

Saudaraku terkasih,
Saya ingat bagaimana miskinnya kami. Bahkan untuk dapat menikmati ayam goreng lezat, kami harus menunggu tibanya hari istimewa seperti Natal, Tahun Baru atau hari Ulang Tahun. Lauk sehari-hari adalah tempe, tahu, kerupuk dan ikan asin.

Saudaraku,
Mungkin kamu belum pernah ya merasakan nasi goreng yang dimasak menggunakan minyak bekas menggoreng ikan asin yang warnanya sudah berubah menjadi hitam. Tapi sungguh, itu nasi goreng terlezat yang pernah saya nikmati..... :)

Baju baru kami juga berasal dari kain seragam ayah yang dijahitnya sendiri.
Kami semua berjuang dengan keras untuk bangkit dari kemiskinan. Walau untuk mencapai hidup yang layak, kami laksana menggeliat ditengah kubangan yang pekat. Sangat berat dan menyakitkan..... :(

Saya masih ingat, untuk membiayai kuliah saya, selain mengharapkan kiriman dari ayah yang memeras keringat untuk mendapatkan biaya kuliah kami. Saya juga menggunakan talenta yang diberikan Tuhan pada saya, menulis artikel-artikel untuk dijual ke surat kabar atau majalah. Lumayan hasilnya....

Berjuang dan terus berjuang. Dari seorang yang tinggal di kampung, kami mengadu nasib di kota besar. Mulanya bagai menabrak tembok keras. Tapi tak pernah menyerah, karena kami percaya Tuhan pasti buka jalan bagi umatNya yang mau bekerja keras dan berusaha.

Saudaraku terkasih,
Bila saat ini Anda merasa bagai menabrak tembok keras. Bagai tidak ada harapan untuk maju, jangankan untuk berlari, bahkan untuk merangkak saja sangat sulit. Jangan pernah putus asa, maju terus...., disertai dengan doa pengharapan pada-NYA. Tuhan pasti akan buka jalan. Karena semua orang, situasi, kondisi, dan keadaan pasti akan Tuhan bukakan dan kerahkan pada setiap orang yang mau berjuang untuk maju... Ini pasti...!!

Saya percaya, Anda semua akan berhasil mencapai impian manis Anda.. Selama itu berkenan di mata Tuhan.

(2 Petrus 1:10) Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.

LORD JESUS bless you and me, now and forever.
AMEN.

Sumber: Renungan Harianku & Kesaksian Andre Blessing

Jumat, 10 September 2010

KISAH CINTAKU DENGAN CLARA

Kej 2:18,"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Saat ini saya akan menceritakan bagaimana Tuhan mempertemukan saya dengan Clara (pacar saya) dan kiranya kesaksian ini dapat menguatkan saudara-saudari yang masih jomblo, sedang berpacaran maupun yang telah menikah

Pertemuan saya dengan Clara bermula di Facebook, dimana Clara adalah salah satu anggota Garam dan Terang Dunia, dilanjutkan dengan SMSan dan telepon-teleponan sampai akhirnya pada tanggal 15 Juni 2010 kami berkomitmen untuk berpacaran. Selama kami berpacaran jarak jauh, kami selalu terbuka dalam segala hal (bahkan kami tahu dengan siapa pasangan kami pergi hari itu) dan juga sering berkomunikasi lewat SMS dan HP dan akhirnya pada tanggal 27 Agustus saya menemui Clara dan keluarganya di Tomohon dan, puji Tuhan, keluarganya menerima saya dengan sangat baik (bahkan saya dijemput Clara dan saudara-saudara serta teman-temannya di bandara internasional Sam Ratulangi).

Tanggal 1 September 2010 saya kembali ke Jakarta (saya diantar Clara, mamanya, 2 keponakannya dan teman-temannya ke bandara internasional Sam Ratulangi) dan beberapa hari kemudian saya baru tahu dari salah satu adik angkat saya asal Tomohon bahwa dia sudah mendoakan agar Clara menemukan pasangan hidup dan pasangan hidup tersebut harus datang menemui Clara dan keluarganya. Melalui kesaksian ini saya ingin berterima kasih kepada salah satu adik angkat saya asal Tomohon untuk doa-doanya dan kami berdua pun berdoa agar dia menemukan pasangan hidup yang mau menerima dan menyayangi dirinya serta keluarganya apa adanya.

Sebagai info tambahan, kepergian saya ke Tomohon merupakan jawaban doa saya beberapa tahun lalu, saat saya berkata,"Tuhan, kota pertama yang akan saya layani adalah Manado!" dan sekitar jam 3 sore (waktu Manado) saya tiba di Manado. Saya juga singgah di Makassar (kota kelahiran saya) untuk pertama kali sejak saya dibawa orang tua angkat saya ke Jakarta 33 tahun yang lalu, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke Manado.

Mohon dukung kami dalam doa agar tanggal 15 Juni 2011 kami dapat menikah di Tomohon

GBU and family always, my sisters and brothers!

di kutip dari kesaksian Pst Rudyanto Lay

Selasa, 07 September 2010

IMAN sebuah keluarga terhadap anaknya penderita Tumor

Cerita ini kisah nyata dari adik sekolah minggu saya yang masih berusia 2,5tahun bernama tabita sitinjak. Seorang anak dari buah nikah keluarga T. Sitinjak saya belajar banyak dari keluarga ini sampai-sampai tergerak untuk menulis kisahnya. Pak Sitinjak hanya seorang penjual kasur dengan 3 anak perempuan, ibu sitinjak adalah seorang wanita yang terus menggebu-gebu imannya. Bahkan disaat anaknya menderita komplikasi dan tumor .
Tabita di rawat karena mengalami komplikasi usus, paru-paru dan tumor yang saya dengar 3 minggu lalu. Kesaksian Pak Sitinjak membuat saya terus memutar logika dan bertanya-tanya bagaimana, mana mungkin ? bapak sitinjak masih bisa bersyukur pada penderitaanya yang menghabiskan banyak uang, waktu, dan pikiran tapi di saat dia terus beriman dan bersyukur sesuatu yang sering disebut “berkat & Mukjizat” terus menopangnya. Dokter saja yang menangani nya yang sebenarnya mencari duit dari pasien justru berpatung-patungan untuk membantu biaya CT SCAN untuk Tabita, bulan agustus lalu tabita sebenarnya harus masuk ruang ICU tapi karena ruangan penuh dia harus menunggu, mungkin benar “TUHAN selalu punya cara untuk menunjukan Mukjizatnya” disaat kritis itu justru keluar cairan dari paru-paru tabita
kesaksian terakhir hari ini yang di sampaikan Bp. Sitinjak disaat dia berhasil mendapatkan kantong darah dari PMI padahal persediaan kantong darah kosong karena sedang berpuasa tapi perawat tergerak berupaya mencari dan berhasil menemukan satu kantong darah. Keluarga ini juga kembali mendapat sumbangan dana dari daerah tempat tinggalnya untuk kedua kalinya. Sebenarnya Tabita harus melakukan operasi untuk pengangkatan Tumor stadium 4. Tapi entah karena kondisi kesehatan atau ekonomi tabita harus terus menahan sakit paru-paru, usus, hati + TUMOR . sampai saat ini keluarga masih terus beriman bahwa TABITA akan sembuh. Imannya membuat orang seperti saya yang terus mengandalkan logika terbuka dari pikiran busuk manusiawi .
“Jika TUHAN berkehendak tiada yang mustahil bagi TUHAN”

"Bantu Doa untuk Tabita yang masih dirawat di ruang ISOLASI Cipto sekarang"

NB: bagi saudara yg terbeban untuk membantu biaya pengobatan dari Tabita, bisa langsung datang ke RS.CIPTO dan mencari keluarga TABITA SITINJAK, Karena dari informasi yg kami dapatkan, sdh 3 minggu orang tua nya tdk bekerja karena harus merawat anak terkasihnya.

"INFORMASI INI KAMI DAPAT PADA TGL 5 SEPTEMBER 2010"

Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.(Amsal 21:13)

Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
(2 Korintus 9:6)

(Sumber : jtampubolon_2009@yahoo.co.id)

Rabu, 01 September 2010

Tuhan Mampu Ubahkan Hal Buruk Menjadi Kebaikan

Syanni adalah seorang wanita berusia 23 tahun yang bekerja sebagai operator telepon di sebuah perusahaan. Sore itu tanggal 25 Juni 1987, Syanni pulang bersama teman-teman kantornya dengan menggunakan kendaraan karyawan.

Namun, di dalam perjalanan tiba-tiba mobil yang ditumpanginya dan teman-temannya menabrak sebuah truk. Sejak itu, kehidupan Syanni berubah.

“Pada kecelakaan itu, empat orang meninggal dunia, tiga orang geger otak, dua orang patah tulang, dan saya mengalami benturan yang hebat di bagian wajah.”

“Semua itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba mobil berguling-guling beberapa kali. Tiba-tiba saya merasakan benturan yang teramat hebat menghantam bagian wajah saya. Saya berteriak. Benturan itu membuat bagian wajah saya teramat sangat sakit. Saat itu juga saya tidak bisa melihat apa-apa,”

Syanni lalu dibawa ke rumah sakit dan langsung mendapat penanganan dari dokter. Setelah sembilan hari dirawat, Syanni mendapat tindakan operasi selama 7 jam. “Pada saat saya sadar, saya mau berbicara, tetapi tidak keluar suara dan suster mengatakan kepada saya, ‘saya tidak bisa bicara karena leher saya dipasang alat untuk bernafas. Saya mulai memegang wajah saya.

Saya kaget karena sampai di pipi, mengapa bisa sebesar ini? Saya rasa muka saya seperti monster gitu. Saya terus coba pegang lagi ke hidung, ternyata hidung saya rata. Terus saya pegang lagi ke mulut saya, bibir saya terbuka karena kawat-kawat di dalamnya. Sampai tiga bagian itu saja, saya menangis dalam hati. Pedih rasanya mengetahui kecelakaan itu telah membuat keadaan wajah saya cacat. Saya pun berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan, berikan saya kekuatan’”

Kurang lebih satu bulan lamanya, Syanni dirawat di rumah sakit. Lalu Syanni diizinkan pulang oleh dokter.

“Saat ibu saya membeli obat, saya tinggal sendiri, adik-adik sekolah, pembantu di belakang, saya kepingin ke toilet. Lalu karena saya merasa tahu letak toilet di rumah saya itu dimana, saya pun memberanikan diri berjalan ke luar kamar seorang diri. Saat saya berjalan ternyata badan saya terbentur dinding. Di saat itulah saya sadar bahwa saya buta. Terus saya menangis, ‘Tuhan, ternyata saya buta, saya buta’ Lalu saya pun membenturkan kepala saya ke dinding. Setelah puas membenturkan kepala saya ke dinding, saya pun berjalan berbalik ke kamar saya. Baru beberapa langkah berjalan, badan saya lemas dan akhirnya saya pun terjatuh. Sambil meratapi kesedihan, saya berkata kepada Tuhan, ‘Tuhan, jika Engkau mengasihi saya maka segera ambillah nyawa saya sekarang juga. Saya kepingin mati Tuhan’

“Sebelum kecelakaan itu saya sangat mandiri. Semuanya, saya pergi kemana saya selalu kerjakan seorang diri. Saya senang melakukan sendiri dan tidak pernah mau bergantung kepada orang lain. Penuh dengan cita-cita, dengan harapan, dengan semangat, dengan segala macam rencana. Karir yang saya sedang saya rintis. Semua tantangan buat saya. Umur 23 tahun adalah semangat untuk saya. Tetapi, tiba-tiba semuanya hilang, gelap segelap yang saya pandang”

Syanni sudah melakukan beberapa operasi, namun matanya tetap tidak bisa melihat. Syanni memutuskan untuk tidak ke dokter lagi karena dokter sudah angkat tangan. “Tiap malam saya tidur, saya sudah melipat tangan saya. Saya sudah membayangkan orang yang mati di dalam peti. kematian itu sesuatu yang indah sekali buat saya. Saya bisa terlepas dari semua siksaan ini. Satu malam, dua malam, hampir satu minggu saya seperti itu, tidak ada perubahan. Saya tidak mati-mati”

Di dalam kelelahannya, tiba-tiba Syanni teringat akan perkataan yang pernah diucapkannya. “Saya teringat sama janji pertama kali sama Tuhan Yesus, saya terima semuanya ini. Saya tahu Tuhan punya rencana, Tuhan mau pakai apa saja di dalam rencana Tuhan. Walaupun keadaan seperti ini, saya terima. Jadi saya sudah tidak mau mendikte Tuhan lagi”

Beberapa bulan kemudian, atasan dari tempat kerjanya dulu memanggil Syanni datang ke kantornya. “Ia mengajak saya untuk bekerja kembali. Apakah saya bersedia?’ Saya tanya, ‘pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh seorang buta seperti saya?’ Lalu Ia pun bercerita, ‘operator kami di Basel, Swiss, dia adalah orang buta dan dia bisa menjadi operator telepon yang baik. Jadi, kamu bisa juga seperti dia. Lalu saya pikir lagi, ‘Kalau boss saya yang orang lain aja begitu yakin dengan saya, kenapa saya yang punya badan tidak yakin.’ Akhirnya tawaran itu pun saya terima. Ia pun melanjutkan perkatannya, ‘Saya tidak minta kamu full time disini. Kalau badan kamu capek, kamu bisa pulang’. Kalau bukan Tuhan yang melakukan ini, lalu siapa? Saya ini siapa, hanya seorang karyawan kecil di perusahaannya”

Akhirnya Syanni bekerja sebagai operator telepon. Syanni bekerja melayani 15 line telepon dan 250 ekstension untuk sambungan lokal dan internasional. Pada tahun 1992, Syanni mendapat juara III karena bekerja sebagai operator telepon yang bisa berbahasa Inggris dalam sebuah pertandingan ketrampilan penyandang cacat Asia Pasifik di Hongkong. Bahkan ia memberikan seminar ‘How to be good operator’ di berbagai perusahaan.

“Dulu saya berpikir kebutaan itu adalah akhir segalanya. Tuhan mengubah kebutaan itu mengubahnya dari yang tidak berarti menjadi malah mempunyai arti di dalam kehidupan ini”
Pada tahun 1999, Syanni menikah dengan seorang pria bernama Deddy Utomo dan memiliki seorang anak laki-laki. Dan pada tahun 2005, Syanni mengundurkan diri dari tempat pekerjaannya dan membuka bisnis sendiri dalam bidang suplai barang-barang kebutuhan perusahaan. “Jadi campur tangan Tuhan membuat yang tadinya itu pahit menjadi indah dan indah pada waktunya,” ujar Syanni menutup kesaksiannya kali ini.

Kisah ini ditayangkan 30 Agustus 2010 dalam acara Solusi life di O'Channel

Sumber Kesaksian: Syanni



Info2:

*SMS Air Kehidupan :
Indahnya "Pelangi" karena "Warna". Indahnya "Taman" karena "Bunga". Indahnya "Hati" karena "Kasih". Indahnya "Cinta" karena "Pengorbanan". DAN.. Indahnya "Hidup" karena "Ada Yesus bersama kita". Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis2nya rahmatNya, selalu baru tiap pagi.. Besar setiaMu..

Sabtu, 28 Agustus 2010

MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, kata dokter.

Karen dan suaminya berusaha menerima kenyataan tersebut dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!
"Mami, … aku mau bernyanyi buat adik kecil!" Tapi ibunya kurang menanggapi rengekan Michael.
"Mami, … aku ingin bernyanyi!" rengek Michael. Namun Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya, sehingga dia tidak memperdulikan rengekan Michael.
"Mami, … aku ingin bernyanyi!" Permintaan ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael adalah rengekan anak kecil.
Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan untuk kesembuhan putri kecilnya semakin menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. "Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!" pikir Karen. Namun Karen dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU.
"Anak kecil dilarang masuk!" cegah suster. Karen ragu-ragu. Tapi, suster tidak mau tahu; "ini peraturan!" kata suster, "Anak kecil dilarang dibawa masuk!" sahut suster lagi.
Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!"
Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "tapi tidak boleh lebih dari lima menit ya...!." kata suster mengalah.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat-lekat adiknya … Tatapan matanya penuh cinta..... lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring
“… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …”
Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.
"You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away." Michael terus melantunkan nyanyiannya.

Denyut nadi adiknya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam "terus, … terus Michael! teruskan sayang …!!" bisik ibunya …
"The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands …" lanjut Michael dengan sayang.

Dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur … "I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same … " Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan bernyanyi… adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap.
Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tidak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.
Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.

Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain … Datang dari seseorang yang kita anggap lemah … Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan …

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Galatia 5:14)

GOD bless you, now and forever. AMEN.

Senin, 23 Agustus 2010

Istri dan Anakku, Saksi Mata Perselingkuhanku

Waktu kecil, saya, Edwin Tanalisan, tinggaldan dibesarkan oleh nenek dari papa. Saat itu, saya benar-benar merasakan apa itu kasih sayang. Namun ketika saya dipulangkan kepada orangtua saya, yang ada malah sebaliknya. Sehingga dari waktu ke waktu, bila siang saya ke rumah nenek dan rumah orangtua hanya dijadikan sebagai tempat tidur.
Saya lalu mulai mencari kebahagiaan di luar. Dengan pergaulan yang tidak benar. Semakin saya dewasa, makin membentuk kejahatan dalam diri saya.
Saya bekerja sebagai penagih hutang waktu itu. Ada beberapa waktu, saya bisa mendapatkan uang
banyak. Waktu kita habis menagih uang, kita bisa bagi Rp.20.000.000 jadi 6 (yang waktu itu saya
anggap terlalu besar buat saya), Sedangkan saya bekerja dengan gaji cuma Rp.500.000,-/
bulan. Hal tersebut membuat saya terbawa dengan keadaan kegelimangan harta. Saya makin tenggelam dan mempunyai hubungan gelap. Yang memang gila juga, saya kost-in partner gelap saya ini dekat rumah. Tidak hanya itu. Saya semakin menggila. Jadi obat yang saya pakai itu bukan hanya satu dua tiap harinya, tapi lebih dari 10 buah.
Ketika mulai memakai ekstasi, di sanalah saya mulai temukan seperti ada kasih sayang yang dominan. Kalau saya ngomong dengan orang, kayaknya enak benar.
Ada kasih sayang yang luar biasa, ada sukacita yang luar biasa. Kalau mungkin saya ga minum itu, mungkin suasananya biasa saja. Karena obat itu, kalau ada sedikit musik saja saya sudah merasa sangat bahagia. Saya makin jauh tenggelam.
Kenapa saya katakan begitu? Karena ketika saya tidak menggunakan obat itu, kenyataannya adalah saya begitu merasa terasing dalam keluarga saya sendiri pun. Saya jauh dari bahagia.
Tapi karena saya cinta mati pada pekerjaan ini, saya pernah berpikir tidak apa bila saya mati
karena overdosis, karena saya cinta dengan pekerjaan dan kehidupan yang seperti ini.

Suatu ketika, ketika istri dan anak saya tertua sedang berjalan ke luar rumah, mereka melihat motor saya diparkir di kost tersebut. Mereka mendatangi kost tersebut. Setelah pintu yang diketok-ketok tidak dibuka, mereka masuk dengan membuka paksa pintu.
Mereka melihat saya tidur dengan selingkuhan saya.
"Tapi dia tidak mengaku hal itu sama saya kalau itu memang simpanannya," kisah Jamila Tanalisan, istriku.
"Ini teman papa..." kataku waktu itu ketika ditanya.
Sedangkan anak saya yang tertua, Emilia Magda Tanalisan, menjadi trauma karena hal tersebut. "Pada saat itu, saya menjadi anak yang nggak bisa ngapa- ngapain gitu... sama sekali ga bisa nolongin mama dan cuma bisa melihat seseorang yang membuat aku ada di dunia ini bisa berbuat begitu dan tiba-tiba aku merasa sama sekali nggak sanggup melihat hal itu." aku Emilia.

Malam itu, saya pulang ke rumah dan meminta ampun kepada istri saya, saya berjanji
tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Sebegitu bencinya Emil, anak saya kepada saya, dia pernah berpikir kenapa Tuhan masih memperbolehkan saya hidup karena tidak ada
gunanya saya hidup. Karena memang uang yang saya dapatkan, tidak pernah sepeser pun saya berikan kepada keluarga. Mereka berjuang sendiri. Belum lagi perlakuan saya kepada Emilia. Dulu
waktu dia belum lahir, saya berharap bahwa anak pertama saya adalah seorang laki-laki, karena saya mempunyai kebanggaan sebagai seorang laki-laki, saya berharap dapat
mempunyai keturunan. Ketika yang lahir adalah anak perempuan, muncul kekecewaan dalam hati saya. Namun hal ini tidak pernah saya ungkapkan dalam keluarga saya.
Menurut saya, saya ini seorang pengecut. Karena saya berani memukul anak kecil yang tidak punya
kemampuan. Kalau saya kesal sedikit saja, anak sulung saya ini, paling sering saya pukul. Saya perlakukan dia seperti anak tiri padahal bukan. Saya pernah pukul dia, banting dia, saya injak,
saya pernah tendang dia. Saya pikir saya ini tidak layak jadi orangtua dari anak- anak saya.
Istri saya selalu yakin bahwa doa yang dia panjatkan tidak pernah sia-sia. "Setiap hari kita minta itu pada Tuhan. Tuhan, tolong kembalikan dia, tolong pulihkan dia supaya dia bisa melihat keluarga." Kata Jamila, karena waktu itu anak-anak masih kecil.

Suatu hari, saat saya sedang sendirian, tidak ada siapa-siapa di situ, saya hanya ditemani oleh bir dan rokok. Tiba- tiba, ada sebuah suara yang lembut sekali tapi jelas berkata," Kalau
hari ini Saya panggil kamu, kamu kemana?" Suara itu berbisik tapi tajam di dalam hati saya. Saat itu, mulai timbul pertanyaan. Iya juga, kalau Tuhan panggil saya hari ini, saya akan kemana? Tidak ada pilihan lain, hanya neraka dan neraka.
Malam itu perubahan besar terjadi dalam hidup saya. Saya meninggalkan diskotik yang menjadi kehidupan saya selama ini dan narkoba serta selingkuhan saya juga. Setan tidak tinggal diam, banyak tawaran dari diskotik yang waktu itu tahu saya, mengajak saya untuk kerja di sana. Tapi saya tekad, saya mau mencari tempat dimana saya bisa mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Saya mulai mencari tempat, saya mencari Tuhan dalam ibadah
yang saya ikuti.
"Tuhan, saya serahkan sepenuhnya kehidupan saya. Apa yang Tuhan mau saya perbuat,
saya mau ikut saja." Firman itu seperti muncul dalam kehidupan saya, Dia ngasih tahu bahwa
saya harus membuat pengakuan. "Kalau kamu mau bertobat sungguh-sungguh, kamu tidak bisa simpan apa yang pernah kamu lakukan. Kalau yang kelihatan saja kamu simpan, apalagi yang tidak
kelihatan."
Pribadi saya sendiri berkata, mana mungkin saya memberitahu istri
saya perbuatan apa saja yang saya lakukan, namun saya harus kasih tahu. Saya kumpulkan keluarga saya malam itu jam 11 malam, saya kasih tahu semua yang pernah saya perbuat kepada istri saya. Ternyata semua tidak seperti yang saya harapkan. Anak tertua saya menolak
permintaan maaf saya. Emil ragu apakah saya sungguh-sungguh. Namun kemudian, tiga bulan kemudian, persis jam 11 malam, Emil membangunkan saya. Dia memeluk saya, dia minta ampun. Dia mengasihi saya. Itu adalah hal yang luar biasa, Tuhan pulihkan di situ, Tuhan baik, Tuhan
terlalu baik. Itu baru saya dapat. Inilah rumah tangga yang saya inginkan, Tuhan. Pemulihan akhirnya dapat dirasakan oleh keluarga ini, perubahan terjadi dalam hidup saya.

"Udah ga jagoan kayak dulu lagi ya... Sekarang jauh lebih memperhatikan mama, memperhatikan anak anaknya dan berusaha selalu ada di saat kita membutuhkan dia." ungkap Emilia kemudian.

"Kemanapun, sampai ke pasar pun sekarang saya sama-sama. Tiap hari, mau hujan, mau panas, tetap antar ke pasar." kata Jamila.
Ketika kehadiran Tuhan Yesus memulihkan, di situlah hadir suka cita. Waktu dulu Tuhan Yesus bertanya kepada saya, bila Dia memanggil saya saat ini, sekarang saya bisa menjawab bahwa hanya ada satu jawaban buat saya, saya akan ke surga.
(Kisah ini ditayangkan
pada acara Solusi Life di
O Chanel tanggal 18
Agustus 2010)