*
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Semester 2 kelas X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Semester 2 kelas X. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juni 2010

Perilaku Menyimpang


1. Definisi
• Menurut James W. Van der Zaden. Penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
• Menurut Robert M. Z. Lawang. Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan menimbulkan usaha dari yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang tersebut.
2. Faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang
a. Faktor internal
- Faktor intelegensi
- Kondisi fisik
Seorang tokoh bernama C. Lombroso melihat tanda-tanda fisik seseorang, dapat dikenali apakah seseorang itu orang yang baik atau jahat dari fisiknya.
- Kondisi psikis
Kondisi kejiwaan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Orang yang sedang guncang jiwanya akan mudah melakukan perilaku menyimpang.
- Kepribadian
Menurut Koentjaraninrat kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku tiap-tiap individu.
- Usia
Pertambahan usia sering mempegaruhi pembentukan pola pikir dan tingkah laku seseorang. Ketika semakin tua, orang sering mudah tersinggung. Selain itu, orang yang usianya sudah lanjut, sering menjadi pikun.
- Jenis kelamin
Jenis kelamin seseorang yang berbeda dari yang lainnya dalam keluarga dapat mendorong perilaku menyimpang, misalnya saja, dalam satu keluarga mempunyai enam orang anak tetapi hanya satu yang perempuan. Maka ia akan terbentuk seperti laki-laki atau dapat menjadi sangat manja karena merasa perempuang sendiri.
- Kedudukan seseorang dalam keluarga
Kedudukan seseorang dalam keluarga dapat juga mendorong penyimpangan. Seperti saja, seorang kakak merasa paling berkuasa daripada adik-adiknya, dsb.
b. faktor eksternal
- faktor sosial ekonomi
- kondisi Politik
Kondisi politik suatu negara terutama penggunaan sistem politik yang tidak sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat karena dianggap bertentangan dengan HAM dapat menjadi pendorong perilaku menyimpang.
- Faktor budaya
Setiap orang mempunyai kebudayaan yang berbeda, sehingga pada kehidupan masyarakat dapat dipastikan terdapat keanekaragaman budaya. Masyarakat dengan keanekaragaman budaya dapat menimbulkan konflik dan perilaku menyimpang.
- Kehidupan rumah tangga
- Pendidikan di sekolah
- Pergaulan
- Media massa
3. Klasifikasi Perilaku menyimpang
a. Berdasarkan sifatnya, dibagi menjadi :
- Positif
Contoh : seorang gadis desa yang berani tidak menuruti perintah orang tuanya untuk menikah dengan calon orang tuanya dengan alasan sudah memiliki pilihan sendiri.
- negatif
Contoh : Kebut-kebutan di jalan raya
c. Berdasarkan jumlah orang yang melakukan
- Penyimpangan individual
- Penyimpangan kelompok
- Penyimpangan campuran, yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh golongan sosial yang teroganisir secara rapi sehingga individu ataupun kelompok di dalamnya tunduk dan taat pada norma-norma yang berlaku pada golongan.

d. berdasarkan jenis, penyimpangan dapat dibedakan menjadi
- Kriminal atau kejahatan adalah pe;anggaran norma hukum yang ditafsirkan sebagai perbuatan yang merugikan, menjengkelkan dan tidak boleh dibiarkan.
Contoh : kejahatan yang mengganggu keamanan dan kestabilan pemerintahan. Bangsa dan negara, misalnya Korupsi. Kolusi, dan nepotisme.
- Penyimpangan Seksual
- Penyimpangan dalam bentuk pemakaian atau peredaran obat terlarang dan alkoholisme.
- Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup
• sikap arogansi, yaitu kesombongan diri terhadap orang lain karena dia memiliki kelebihan, seperti : kekayaan, kecantikan, dsb
• Sikap eksentrik : perbuatan yang menyimpang yang biasanya dianggap aneh. Misalnya, laki-laki memakai gelang, dsb.
- tawuran atau perkelahian pelajar
e. Berdasarkan lama terjadinya, dibedakan menjadi :
- Penyimpangan primer (primary deviation). Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Seseorang yang melakukan penyimpangan primer masih diterima di masyarakat karena hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang tersebut. Misalnya, siswa yang terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu lintas, dan orang yang terlambat membayar pajak.
- Penyimpangan sekunder (secondary deviation). Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang yang melakukan tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan masyarakat dan mereka biasanya di cap masyarakat sebagai “pencuri”, “pemabuk”, “penodong dan “pemerkosa”. Julukan itu makin melekat pada si pelaku setelah ia ditangkap polisi dan diganjar dengan hukuman.

4. Teori-teori penimpangan
- teori Differential Association atau pergaualan yang dikemukakan oleh Edwin H.Shutterland, ia berpendapat bahwa penyimpangan penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Contoh :proses menghisap ganja
- Teori labeling, oleh Edwin M.Lemert
Seseorang yang telah melakukan penyimpangan tahap primer, diberi label atau cap sebagai penyimpang. Misal : pencuri, pelacur, dsb, sehingga pelaku akan melanjutkan ke tahap sekunder dengan alasan kepalang tanggung.
- Teori Merton, oleh Robert K.Merton, menjelaskan bahwa perilaku menyimpang merupakan adaptasi terhadap situasi tertentu. Ia menjelaskan beberapa tipe adaptasi, :
• Conformiti, yaitu perilaku mengikuti tujuan untuk mengikuti cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
• Innovation, yaitu perilaku menikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, tetapi dengan cara yang dilarang
• Ritualism, yaitu perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi masih tetap berpegang pada cara-cara yang digariskan masyarakat.
• Retreism , yaitu pengasingan diri dengan menolak tujuan yang disetujui maupun cara untuk melaksanakan tujuan itu.
• Rebbelion atau pemberontakan, yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya melembagakan ujuan dan cara yang baru.


Rabu, 02 Juni 2010

Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian

Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian

1) Pengertian sosialisasi

a. Peter L. Berger : proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang dapat berpartipasi di dalam masyarkat.

b. David gaslin : proses belajar yang dialami seorang anak untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat.

c. Soejono soekanto : sebagai proses social tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang yang ada di dalam kelompoknya.

d. Menurut KBBI : suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat lingkunganya.

2) Tujuan sosialisasi :

a. meberikan latihan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan sesamanya dan lingkunganya.

b. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dengan semua pihak.

c. Melatih seseorng agar mampu mengendalikan fungsi-fungsi oragniknya dan kepentingannya agar sikap dan perilakunya tidak menyimpang dari tata nilai dan norma sosial yang berlaku.

d. Membekali seseorang dengan seperangkat nilai dan norma sosial agar sikap dan perilakunya sesuai dengan harapan masyarakat.

3) Dua macam pola sosialisasi dalam keluarga :

a. Sosialisasi represiv, yaitu pola sosialisasi yang mengutamakan ketaatan anak kepada orang tua.

Ciri- cirinya antara lain :

- Sosialisasi berpusat pada orang tua

- Kepatuhan anak pada orang tua

- Menghukum perilaku anak yang salah

- Memberi imbalan material pada anak yang patuh

- Komunikasi sebagai perintah

- Anak memperhatikan keinginan orang tua

- Dominasi dalam keluarga adalah orang tua

b. Sosialisasi partisipasi, yaitu sosialisasi yang mengutamakan adanya partisipasi oleh anak.

Ciri-cirinya :

- sosialisasi berpusat pada anak

- otonomi anak

- meberikan imbalan bagi perilaku yang baik

- hukuman dan imbalan bersifat simbolis

- komunikasi sebagai interaksi

- orang tua memperhatikan keinginan anak

- dalam keluarga ada kerja sama ke arah tujuan

4) Faktor yang mempengaruhi sosialisasi

- sifat dasar manusia

- lingkungan pranental

- perbedaan individu

- lingkungan (alam, budaya, masyarakat )

- motivasi / dorongan dan kebutuhan

5) Tahapan sosialisasi

a. Tahap persiapan ( preparatory Stage )

Ketika bayi dilahirkan, ia berada pada tahap persiapan, yaitu persiapan untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk persiapan untuk memperoleh pemahaman diri. Pada tahap ini seorang balita melakukan kegiatan meniru dengan tidak sempurna.

b. Tahap meniru (Play Stage )

Pada tahap ini, seseorang sudah dapat meniru dengan sempurna tentang keadaan yang ada disekelilingnya. Mereka sudah dapat memainkan peran-peran tertentu meskipun terbatas. Misalnya saja, seorang bersama temannya bermain dokter-dokteran, polisi-polisian, dsb.

c. Tahap Siap Bertindak ( Game Stage )

Pada tahap ini, peniruan yang dilakukan individu sudah mulai berkulang. Digantikan oleh peranan yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.selain itu, kemampuan anak untuk menempatkan diri pada posisi orang lain sudah mengalami peningkatan yang lebih baik.

d. Tahap menerima Norma kolektif ( Generalized Other )

Pada tahap ini, lebih menekankan pada pola penyesuaian diri. Seorang individu dewasa sudah dapat menyelaraskan dan menyesuaikan dirinya dengan pola kehidupan sosial budaya.

6) Pengertian Kepribadian

Merupakan ciri watak dan sifat-sifat khas yang konsisten dari seorang individu, sehingga memberikan identitas yang khusus pula bagi individu yang bersangkutan.

Definisi kepribadian menurut para ahli :

a. Alport : organisasi dinamis dari sistem psikofis dalam diri individu yang menentukan keunikan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

b. Koentjaraningrat : susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu

c. Yinger : keseluruhan perilaku seseorang dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.

7) Menurut Roucek dan Warren, ada tiga yang memperngaruhi kepribadian

- Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya.

- Faktor psikologi/kejiwaan adalah suatu factor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dll. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya.

- Faktor sosiologi/lingkungan adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.

8) Menurut Koentjaraningrat, pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh :

- Pengetahuan

Pengetahuan sebagai salah satu unsur kepribadian memiliki aspek-aspek sebagai berikut: penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi yang berada di alam sadar manusia

- Perasaan

Koentjaraningrat menyatakan bahwa perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif atau negative

- Naluri / dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik yang bersifat rohaniah, maupun jasmaniah.

9) Unsur kepribadian :

- Warisan Biologis ( heredity ) , merupakan factor keturunan yang berpengaruh terhadap perilaku kompulsif dan kemudahan dalam pergaulan social.

- Warisan Lingkungan Alam ( Natural Enviroment )

Adanya perbedaan lingkungan geografis, akan membuat seseorang melakukan penyesuaian diri yang berbeda, sehingga kepridiannya akan berbeda pula.

- Warisan social ( social heritage )

Kebudayaan yang merupakan warisan social sangat berpengaruh pada proses sosialisasi manusia. Misalnya , tradisi gotong royong pada masyarakat.

- Kelompok manusia ( group )

10) Pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian

Kepribadian mengacu pada cirri-ciri khas dan sifat-sifat yang mencerminkan sikap dan tabiat seseorang yang di dalamnya meliputi konsep kepribadian berupa pola-pola pemikiran, perangai, mentalitas, dan segala kebiasaan perilaku individu yang akan diesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaanya.